Monday, April 9, 2012

manfaat klimatologi bagipertanian


TUGAS INDIVIDU
MAKALAH
 KLIMATOLOGI
”Manfaat klimatologi bagi pertanian”
Di Bimbing Oleh :
Ir.Hj.T.Rusmawati,M.Si
Di Susun Oleh :
Azhar Arif Wijaksono
Npm : 114210164
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKAN BARU
KATA PENGANTAR

            Dalam kemajuan ilmu pada saat ini, terutama pada ilmu pertanian, yang mana perkembangan, kemajuan, dan kecanggihan yang dirasakan oleh manusia pada saat sekarang. Namun pada kesempatan ini pemakalah akan menyampaikan sebuah pokok permasalahan khusus, yang mana pemakalah akan menyampaikan secara jelas tentang “AGRO KLIMATOLOGI “. Dalam hal ini secara garis besar pemakalah telah membawa pembaca kepada sebuah pokok pelajaran yang mana bisa memeberi sebuah pelajaran kemajuan dunia pertanian.
            Namun dalam perkembangan saat ini tidak lepas dari generasi-generasi muda yang cerdas, dan tak lepas dari pemikiran bagaimana bisa lahirnya generasi-generasi yang cerdas. Sudah barang tentu tidak lepas peran dari ilmu pertanian, yang terus berkembang sampai saat ini dan tetap memberi kontribusinya terhadap manusia.
            Tidak lepas dari itu pemakalah juga memberi bentuk penulisan yang baik, agar mudah dibaca, dan dengan bahasa yang mudah dipahami, agar makalah ini tetap baik kedepannya, pemakalah mengharapkan kritik dan sarannya, supaya makalah ini dapat mengalami perubahan kedepannya, sekian dan terima kasih.


                                                                       
                                                                                                           


Bab I
pendahuluan
1. Latar belakang
Agroklimatolgi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara unsur-unsur iklim dengan kehidupan tanaman.Radiasi Matahari adalah sesuatu pancaran bersumber dari sinar matahari pada peristiwafotosintesis yang terjadi dalam atmosfer yang di anggap penting bagi sumber kehidupan dan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah katulistiwa termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan,kenaikan muka air laut, dan suhu udara, serta peningkatan kejadian iklim ekstrim berupa banjir dan kekeringan merupakan beberapa dampak serius perubahan iklim yang dihadapi Indonesia. Perubahan iklim akan menyebabkan: (a) seluruh wilayah Indonesia mengalami kenaikan suhu udara, dengan laju yang lebih rendah dibanding wilayah subtropis;
(b) wilayah selatan Indonesia mengalami penurunan curah hujan, sedangkan wilayah utara akan mengalami peningkatan curah hujan. Perubahan pola hujan tersebut menyebabkan berubahnya awal dan panjang musim hujan. Di wilayah Indonesia bagian selatan, musim hujan yang makin pendek akan menyulitkan upaya meningkatkan indeks pertanaman (IP) apa bila tidak tersedia varietas yang berumur lebih pendek dan tanpa rehabilitasi jaringan irigasi. Meningkatnya hujan pada musim hujan menyebabkan tingginya frekuensi kejadian banjir, sedangkan menurunnya hujan pada musim kemarau akan meningkatkan risiko kekekeringan. Sebaliknya, di wilayah Indonesia bagian utara,meningkatnya hujan pada musim hujan akan meningkatkan peluang indeks penanaman, namun kondisi lahan tidak se baik di Jawa. Tren perubahan ini tentunya sangat berkaitan dengan sektor pertanian.
Strategi antisipasi dan teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan aspek kunci yang harus menjadi rencana strategis Departemen Pertanian dalam rangka menyikapi perubahan iklim. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tahan (resilience) terhadap variabilitas iklim saat ini dan mendatang.Upaya yang sistematis dan terintegrasi,serta komitmen dan tanggung jawab bersama yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan guna menyelamatkan sector pertanian. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu disusun kebijakan kunci Departemen Pertanian dalam rangka melaksanakan agenda adaptasi mulai tahun 2007 sampai 2050 yang meliputi rencana aksi yang bersifat jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Perubahan iklim dengan segala penyebabnya secara faktual sudah terjadi di tingkat lokal, regional maupun global. Peningkatan emisi dan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) mengakibatkan terjadinya pe manasan global, diikuti dengan naiknya tinggi permukaan air laut akibat pemuaian dan pencairan es di wilayah kutub.naiknya tinggi permukaan air laut akan meningkatkan energi yang tersimpan dalam atmosfer, sehingga mendorong terjadinya perubahan iklim, antara lain El Ninodan La Nina. Fenomena El Nino dan LaNina sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca/iklim di wilayah Indonesia dengan geografis kepulauan. Sirkulasi antara benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Atlantik sangat berpengaruh, sehingga wilayah Indonesia sangat rentan terhadap dampak dari perubahan iklim. Hal ini diindikasikan dengan terjadinya berbagai peristiwa bencana alam yang intensitas dan frekuensinya terus meningkat Fenomena El Nino adalah naiknya suhu di Samudera Pasifik hingga menjadi 31°C, sehingga akan menyebabkan kekeringan yang luar biasa di Indonesia.
Dampak negatifnya antara lain adalah peningkatan frekuensi dan luas kebakaran hutan, kegagalan panen, dan penurunan ketersediaan air. Fenomena La Nina merupakan ke balikan dari El Nino, yaitu gejala menurunnya suhu permukaan Samudera Pasifik, yang menyebabkan angin serta awan hujan ke Australia dan Asia Bagian Selatan, termasuk Indonesia. Akibatnya, curah hujan tinggi disertai dengan angin topan dan berdampak pada terjadinya bencana banjir dan longsor besar
Perubahan iklim sudah berdampak pada berbagai aspek kehidupan dan sector pembangunan di Indonesia. Sektor kesehatan manusia, infrastruktur, pesisir dan sektor lain yang terkait dengan ketersediaan pangan (pertanian, kehutanan dan lainnya) telah mengalami dampak perubahan tersebut. Di sektor pertanian, sama dengan sektor lainnya, belum ada studi tingkat nasional yang mengkaji dampak perubahan iklim terhadap sumber daya iklim,lahan, dan sistem produksi pertanian (terutama pangan). Beberapa studi masih dilakukan pada tingkat lokal, seperti pengkajian dampak perubahan iklim pada hasil padi dengan menggunakan model simulasi.
Kerentanan suatu daerah terhadap perubahan iklim atau tingkat ketahanan dan kemampuan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, bergantung pada struktur sosial-ekonomi, besarnya dampak yang timbul, infrastruktur, dan teknologi yang tersedia. Di Indonesia, upaya-upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1990,walaupun Indonesia tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi target penurunan emisi GRK. Untuk memperkuat pelaksanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia pada sektor pertanian,perlu ditetapkan strategi nasional mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara terintegrasi, yang melibatkan berbagai instansi terkait.
2.  Rumusan Masalah
Adapun masalah pokok yang kami sampaikan pada makalah ini antara lain adalah:
1. Manfaat Klimatologi Bagi Pertanian
2. pengaruh suhu terhadap pertanian
3. Pengaruh Iklim Terhadap Hama Penyakit Tanaman
4.  Pengaruh Iklim Terhadap Perkecambahan Benih
5. Pengaruh curah hujan terhadap pertanian
6.  Fenomena produksi tanaman dan perubahan
cuaca/iklim
7.  Radiasi matahari dan kehidupan tanaman
8.  Radiasi sinar matahari
9. Suhu tanah



BAB II
PEMBAHASAN

1. Manfaat Klimatologi Bagi Pertanian

Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari iklim, dan merupakan sebuah cabang dari ilmu atmosfer. Dikontraskan dengan meteorologi yang mempelajari cuaca jangka pendek yang berakhir sampai beberapa minggu, klimatologi mempelajari frekuensi di mana sistem cuaca ini terjadi. dalam kehidupan sehari-hari, iklim akan mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada suatu kawasan, dan teknik budidaya yang dilakukan petani. Dengan demikian pengetahuan iklim sangat penting artinya dalam sektor pertanian. Hal ini tercermin dengan berkembangnya cabang klimatologi dan meteorology yang khusus dikaitkan dengan kegiatan pertanian yang disebut klimatologi pertanian.
Iklim akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia dan organisme lain yang hidup di muka bumi. Jenis dan sifat Iklim juga akan mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada suatu kawasan serta produksinya, penjadwalan budidaya pertanian, dan teknik budidaya yang dilakukan petani. Pengetahuan tentang iklim sangat penting artinya dalam sektor pertanian.
2. PENGARUH SUHU TERHADAP PERTANIAN
A.  Cuaca
Cuaca dan iklim adalah proses interaktif alami (kimia, biologis dan fisis) di alam, Khusus nya di atmosfer. Hal ini terjadi karena adanya sumber energi, yaitu Matahari dan gerakan rotasi Bumi pada poros (kurang 24 jam) serta revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Dalam peristiwa ini, pendekatan fisis lebih dominan dari pada kimia dan biologis.Cuaca sebagai kondisi udara sesaat dan iklim sebagai kondisi udara rata-rata dalam kurun waktu tertentu merupakan hasil interaksi proses fisis.Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan maupun siklus beberapa tahunan . Selain perubahan yang berpola siklus, aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala lokal.
Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang merubah komposisi atmosfer, yang akan memperbesar keragaman iklim teramati pada periode yang cukup panjang (Trenberth, Houghton and Filho. 1995).
Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamik dan sulit dikendalikan. Dalam praktek, iklim dan cuaca sangat sulit untuk dimodifikasi/dikendalikan sesuai dengan kebutuhan Iklim/cuaca sering seakan-akan menjadi faktor pembatas produksi pertanian. Karena sifatnya yang dinamis, beragam dan terbuka, pendekatan terhadap cuaca/iklim agar lebih berdaya guna dalam bidang pertanian , diperlukan suatu pemahaman yang lebih akurat teradap karakteristik iklim melalui analisis dan interpretasi data iklim. Mutu hasil analisis dan interpretasi data iklim, selain ditentukan oleh metode analisis yang digunakan, juga sangat ditentukan oleh jumlah dan mutu data. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi dan kerjasama yang baik antar instasi pengelola dan pengguna data iklim demi menunjang pembangunan pertanian secara keseluruhan.
Menyimak pemberitaan beberapa media masa akhir-akhir ini tentang semakin rawannya ketersediaan pangan di Indonesia tentunya sangat memprihatinkan. Pengaruh kegagalan panen, bangkrutnya petani dan harga pangan yang makin meningkat dapat meruntuhkan prospek pertumbuhan ekonomi. Kondisi dimana harga bahan pangan dan komoditi lain yang tinggi tentu saja berakibat pada peningkatan inflasi. Semakin rawannya ketahanan pangan di Indonesia merupakan akibat semakin menurunnya luas lahan pertanian dan produktivitas lahan yang tidak mungkin ditingkatkan. Artinya beberapa upaya untuk meningkatkan hasil produksi pertanian sudah tidak ekonomis lagi.
Peningkatan kebutuhan terhadap produksi pertanian akibat peningkatan jumlah penduduk di satu sisi, dan semakin terbatasnya jumlah sumber daya pertanian disisi lain, menuntut perlunya optimalisasi seluruh sumber daya pertanian, terutama lahan dan air. Oleh sebab itu, sistem usahatani yang selama ini lebih berorientasi komoditas (commodity oriented) harus beralih kepada sistem usahatani yang berbasis sumber daya (commodity base), seperti halnya sistem usahatani agribisnis. Salah satu aspek penting dalam pengembangan agribisnis adalah bahwa kualitas hasil sama pentingnya dengan kuantitas dan kontinuitas hasil.
Disamping faktor tanah, produktivitas pertanian sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan berbagai unsur iklim. Namun dalam kenyataannya, iklim/cuaca sering seakan-akan menjadi faktor pembatas produksi. Hal tersebut disebabkan kekurang selarasan sistem usahatani dengan iklim akibat kekurang mampuan kita dalam memahami karakteristik dan menduga iklim, sehingga upaya antisipasi resiko dan sifat ekstrimnya tidak dapat dilakukan dengan baik. Akibatnya, sering tingkat hasil dan mutu produksi pertanian yang diperoleh kurang memuaskan dan bahkan gagal sama sekali.
Sesuai dengan karakteristik dan kompleksnya faktor iklim, maka kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam memodifikasi dan mengendalikan iklim sangat terbatas. Oleh sebab itu pendekatan yang paling efektif untuk memanfaatkan sumber daya iklim adalah menyesuaikan sistem usahatani dan paket teknologinya dengan kondisi iklim setempat. Penyesuaian tersebut harus didasarkan pada pemahaman terhadap karakteristik dan sifat iklim secara baik melalui analisis dan interpretasi data iklim. Mutu hasil analisis dan interpretasi data iklim, selain ditentukan oleh metode analisis yang digunakan, juga sangat ditentukan oleh jumlah dan mutu data.
Selain proses metabolisme, proses pembungaan, pengisian biji dan pematangan biji atau buah tanaman padi juga sangat dipengaruhi oleh radiasi surya (intensitas dan lama penyinaran), suhu udara dan kelembaban nisbi serta angin. Secara aktual, berbagai proses fisiologi, pertumbuhan dan produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh unsur cuaca, yaitu keadaan atmosfer dari saat ke saat selama umur tanaman, ketersediaan air (kelembaban tanah) sangat ditentukan oleh curah hujan dalam periode waktu tertentu dan disebut sebagai unsur iklim, yang pada hakikatnya adalah akumulasi dari unsur cuaca (curah hujan dari saat ke saat).
Demikian juga, pertumbuhan dan produksi tanaman merupakan manivestasi akumulatif dari seluruh proses fisiologi selama fase atau periode pertumbuhan tertentu oleh sebab itu dalam pengertian yang lebih teknis dapat dinyatakan bahwa pertumbuhan dan produksi tanaman dipengaruhi oleh berbagai unsur iklim (sebagai akumulasi keadaan cuaca) selama pertumbuhan tanaman.
Resiko pertanian akibat pengaruh iklim antara lain terjadi melalui dampak kekeringan, kebasahan atau banjir, suhu tinggi, suhu rendah atau “frost”, angin, kelembaban tinggi dan lain-lain. Resiko pertanian akibat iklim tersebut, selain menyebabkan rendahnya hasil baik secara kuantitas maupun kualitas, juga ketidakstabilan produksi pertanian secara nasional. Faktor penyebab resiko pertanian antara lain, fluktuasi dan penyimpangan iklim, ketidaktepatan peramalan iklim, perencanaan usahatani dan pemilihan komoditas/varietas yang kurang sesuai dengan kondisi iklim.
Analisis iklim dalam kaitannya dengan resiko pertanian antara lain adalah pemodelan iklim untuk peramalan iklim dan penyimpangannya, karakteristik dan analisis sifat curah hujan, peluang deret hari kering (tanpa hujan) dalam kaitannya dengan kekeringan, intensitas dan pola curah hujan dalam kaitannya dengan resiko ancaman banjir, erosi dan lain-lain.
Berdasarkan analisis resiko akibat iklim, dapat dikembangkan sistem pengelolaan lahan yang terintegrasi dengan mempertimbangkan karakteristik biofisik, terutama sumberdaya tanah dan iklim. Untuk lebih efektif dan berdaya hasil tinggi dan berkelanjutan, diperlukan kombinasi optimal antara teknologi produksi dan komoditas padi tertent dengan sistem pengelolaan sumberdaya lahan secara optimal.

3. Pengaruh Iklim Terhadap Hama Penyakit Tanaman
Pengaruh iklim yang terdapat di Indonesia, di satu pihak sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sedangkan di pihak lain unsur iklim juga dapat menyebabkan kurangnya unsur hara dan zat makanan yang tersedia dalam tanah melalui proses pengangkutan dan penghanyutan. Penanggulangan hal tersebut yang kurang dipikirkan dengan matang misal cara pengolahan tanah yang salah serta teknik budidaya yang salah, justru akan meningkatkan perkembangan hama dan penyakit tanaman. Misalnya:
1) Tujuan pembajakan lahan adalah selain untuk memperbaiki aerasi tanah, sifat tanah, kelembaban tanah, daya pengikatan tanah terhadap air, daya penyerapan tanah terhadap unsur-unsur hara, dan air, juga dapat membunuh benih-benih gulma dan spora patogen tanah. Pembajakan lahan harus dilakukan dengan baik, jika pembajakan atau pengolahan tanah sebelum penanaman kurang baik, maka selain aerasi tanah, sifat tanah, kelembaban tanah, daya pengikatan tanah terhadap air, daya penyerapan tanah terhadap unsur-unsur hara, dan air akan berkurang juga benih-benih gulma dan spora patogen tanah akan subur dan berkembang biak di lahan tersebut. Jika lahan tersebut ditanami suatu tanaman yang merupakan inang bagi patogen tanah tersebut, maka seluruh tanaman pada lahan tersebut akan terserang.
2) Teknik budidaya yang kurang baik, seperti penggunaan jarak tanam yang terlalu rapat sampai permukaan tanah tertutupi, juga dapat menghalangi masuknya radiasi matahari ke tanah permukaan dan menghalangi proses penguapan tanah (evaporasi berkurang), hal ini dapat meningkatkan kelembaban di lahan tersebut. Semakin tinggi kelembaban maka perkembangan patogen tanaman akan semakin meningkat di lahan tersebut. Penggunaan jarak tanaman yang terlalu rapat juga sangat disukai oleh tikus karena menjadi tempat persembunyian yang baik untuk perkembangan tikus di lahan tersebut.
3) Apalagi jika tempat dimana kita melakukan budidaya merupakan tempat dengan curah hujan yang tinggi, penggunaan jarak tanam yang terlalu rapat dapat meningkatkan perkembangan penyakit di lahan tersebut, hal ini disebabkan karena percikan-percikan air hujan dapat membantu proses penyebaran penyakit.
4) Pada tempat yang kedudukannya dekat dengan matahari, atau karena mulai menipisnya lapisan ozon di atmosfer akan menyebabkan suhu tanah permukaannya biasanya lebih tinggi, hal ini dapat menyebabkan mikroflora dan mikrofauna yang diperlukan untuk menyuburkan tanah akan mati sehingga yang berkembang di dalam tersebut biasanya patogen tanah yang mematikan. Kalau tidak segera dilakukan pencegahan (tidak segera dilakukan mulching/pemulsaan), kemudian tanah tersebut digunakan untuk budidaya pertanian, maka kegiatan pertanian tidak akan berhasil karena bisa diserang oleh penyakit tanaman yang sudah berkembangbiak di tanah tersebut.
5) Pada musim kemarau kecepatan angin sekitar 3,5 m/detik (12,6 km/jam) lebih besar dari musim penghujan. Angin dapat membantu penyebaran spora patogen dari satu lahan yang terserang penyakit ke lahan lain yang ada di sekitarnya yang kebetulan tanamannya merupakan inang dari patogen tanaman tersebut. Jika tidak diantisipasi dengan penggunaan tanaman barier (penghalang) untuk mencegah masuknya atau menyebarnya spora patogen ke lahan punya kita, maka perkembangan penyakit tanaman di lahan kita tidak bisa dihindari.
6) Pemanasan global dapat mempengaruhi iklim atau dapat menyebabkan perubahan iklim, salah satunya adalah terjadinya pergantian antara musim kemarau dan hujan yang tidak menentu, musim hujan dan musim kemarau dalam satu tahun bisa berlangsung menjadi lama dan panjang. Musim kemarau yang panjang ini dapat menguntungkan bagi perkembangan hama penggerek batang padi (Scirpophaga innotata). Hama ini setelah menyerang tanaman padi kemudian dapat melakukan diapause di bagian pangkal batang. Diapause dilakukan ketika musim kemarau tiba, dan setelah tanaman padi dipanen pun masih masih tetap berdiapuse di pangkal batang padi (tunggul-tunggul padi). Selama diapause di tidak makan, tidak minum namun tidur. Tidurnya lama sekali yaitu sepanjang musim kemarau. Pada saat hujan pertama di musim hujan turun, maka hama ini akan membentuk kepompong. Lamanya masa kempompong untuk menjadi dewasa tergantung dari lamanya masa musim kemarau, semakin lama masa musim kemarau akan semakin cepat dia akan berubah menjadi hama dewasa yang siap untuk meletakkan telurnya pada tanaman-tanaman padi yang ada disekitarnya. Kalau keadaan ini tidak diantisipasi, misalnya dengan cara membenamkan tungul-tunggul padi hasil panen ke dalam air, atau membakar tunggul-tunggul padi, maka perkembangan hama batang padi ini akan terus meningkat di lahan tersebut.
4.  Pengaruh Iklim Terhadap Perkecambahan Benih
Pada umumnya benih dari kebanyakan tanaman menghendaki beberapa syarat untuk dapat memulai perkecambahan. Syarat utama yang dibutuhkan untuk perkecambahan (merangsang aktifnya pertumbuhan embrio dalam benih) adalah:
1) Air
Air merupakan salah satu syarat penting bagi berlangsungnya proses perkecambahan benih. Pada umumnya dibutuhkan kadar air benih yang berbeda untuk dapat membuat benih berkecambah, tergantung jenis benihnya. Kadar air benih di mana benih mulai dapat berkecambah disebut “titik kritis perkecambahan”. Titik kritis perkecambahan pada benih tanaman serealia seperti gandum, padi, jagung, adalah 30-35 %. Sedangkan benih Legum seperti kacang tanah, kedelai, yaitu sekitar 50-55 %.
Fungsi air bagi proses perkecambahan adalah:
a) Air yang diserap oleh benih berguna untuk melunakkan kulit benih.
b) Air memfasilitasi masuknya oksigen ke dalam benih. Dinding sel yang tadinya kering hampir tidak permeabel terhadap oksigen, tetapi bila dinding sel benih sudah dimasuki oleh air, maka oksigen akan segera masuk ke dalam sel benih secara difusi.
c) Air berguna untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat mengaktifkan bermacam-macam fungsinya. Selama periode waktu pemasakan biji, sebagian besar air di dalam protoplasma sel-sel embrio pada benih hilang (dehidrasi), semenjak itu aktivitas protoplasma hampir seluruhnya berhenti, tapi apabila protoplasma mengandung sejumlah air (rehidrasi), maka protoplasma akan aktif kembali. Jika protoplasma sudah mengalami rehidrasi, biji akan menghasilkan hormon Gibberellin yang kemudian akan mengaktifkan enzim-enzim yang diperlukan untuk mencerna/menguraikan bahan-bahan makanan yang terdapat dalam cadangan makanan
d) Air berguna sebagai alat transport/pengangkut larutan makanan hasil pencernaan, dari jaringan penyimpan cadangan makanan kepada titik-titik tumbuh pada embrio
Faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan air oleh benih, dipengaruhi oleh:
a) Permeabilitas kulit biji
Penyerapan atau imbibisi air akan lebih cepat ke dalam benih yang kulitnya tidak keras, jika keadaan benih yang kulit benihnya keras, tidak akan berkecambah walaupun benih tersebut dikecambahkan pada medium perkecambahan dengan kelembaban yang cukup, sehingga harus dilakukan perlakuan fisik/mekanis terhadap benih untuk mempermudah masuknya air ke dalam benih
b) Konsentrasi air
Apabila konsentrasi air di luar benih lebih besar daripada di dalam benih, maka air akan berdifusi ke dalam benih dengan baik. Apabila konsentrasi air di benih lebih besar daripada konsentrasi air dalam larutan di luar benih, maka yang terjadi adalah pergerakan air dari dalam benih ke luar, hal ini yang dikenal dengan plasmolisis.
Fenomena plasmolisis sangat penting artinya dalam praktek di lapangan sewaktu:
• Pemberian pupuk anorganik pada tanaman.
Pemberian pupuk cair yang pekat, jika terlalu dekat dengan benih akan mengakibatkan cairan pupuk meliputi benih tersebut, hal ini dapat menyebabkan terhambatnya penyerapan air ke dalam benih (menghalangi rehidrasi dalam benih), sehingga dapat menyebabkan terhambatnya proses perkecambahan benih di lapangan. Begitu pula pemberian pupuk cair yang pekat yang terlalu dekat dengan akar tanaman, akan menyebabkan penyerapan air oleh akar akan terganggu. Kejadian ini akan memperlihatkan gejala layu pada daun atau bagian tanaman yang lainnya di atas permukaan tanah dan jika hal ini berlangsung lama akan menyebabkan kematian tanaman.
• Penanaman benih di lahan dengan salinitas tinggi
Benih yang ditanam pada tanah dengan tingkat salinitas tinggi, akan menyebabkan tidak terjadinya perkecambahan, hal ini disebabkan karena terjadi plasmolisis, dimana air dari dalam benih bergerak ke luar benih karena konsentrasi air dalam benih lebih besar daripada air dalam larutan garam di luar benih, plasmolisis ini mengakibatkan proses difusi air ke dalam benih terhambat, dan proses rehidrasi protoplasma benih pun terhambat, dan akibatnya perkecambahan benih terhambat
Keberadaan air dalam tanah tergantung dari kelembaban tanah tersebut. Kelembaban tanah dipengaruhi radiasi cahaya matahari dan intensitas curah hujan yang turun pada suatu tempat. Pengaruh radiasi matahari akan menyebabkan penguapan, penguapan yang berlebihan pada tanah akan menurunkan kelembaban tanah atau tanah menjdi kering, tanah seperti ini kurang baik untuk proses perkecambahan benih. Sebaliknya curah hujan yang terlalu tinggi, biasanya dapat menyebabkan intensitas cahaya matahari yang datang ke tanah semakin berkurang, sehingga penguapan akan berkurang, jika kebetulan tanah yang ada merupakan tanah yang bersifat liat berlempung atau clayed soil Akibatnya kelembaban tanah menjadi sangat tinggi, kondisi tanah ini kurang baik untuk perkecambahan benih, bahkan benih bisa membusuk karena kelebihan air.
5. pengaruh curah hujan terhadap pertanian
a. curah hujan
Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang basah ( humid tropic ). Cirinya adalah pada musim hujan mempunyai curah hujan yang tinggi. Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong cukup banyak, yaitu rata-rata 2000 – 3000 mm/tahun. Begitu pula antara tempat yang satu dengan tempat yang lain rata-rata curah hujannya tidak sama.
Melihat kondisi diatas, perlu di kembangkan sebuah alat penakar curah hujan sehingga data curah hujan pada suatu daerah dapat dengan cepat diketahui. Hal tersebut sangat bermanfaat, misalnya untuk mengantisipasi / peringatan dini terhadap bencana banjir ataupun longsor. Pada penelitian ini akan dibuat sebuah alat penakar curah hujan berbasis mikrokontroller. Karena membutuhkan banyak input-output maka digunakan mikrokontroller ATMega128 yang mempunyai 7 buah port. Informasi curah hujan diperoleh dari perhitungan sensor curah hujan tipe tipping bucket. Sistem penakar hujan ini juga dilengkapi SD( Secure Digital ) atau MMC ( Multi Media Card ) untuk mengantisipasi terjadinya gangguan jaringan SMS sehingga data curah hujan tetap terjaga Data curah hujan tersimpan dalam SD/MMC setiap 5 menit sekali. Selain itu juga terdapat fitur yang memungkinkan penggunaan teknologi SMS sehingga kita dapat meminta data curah hujan setiap saat tanpa harus pergi ke tempat pemasangan alat penakar hujan. Sistem akan membalas SMS jika format SMS sesuai dengan yang telah ditentukan.Selain itu juga bias berfungsi sebagai stting parameter jarak jauh.Berdasarkan pengujian, sistem dapat berjalan baik dan SD/MMC dapat menyimpan data curahhujan dengan baik
b.  Daerah Persebaran Hujan
Gambar : Curah hujan di Indonesia
Pola curah hujan di Indonesia Secara Astronomis Indonesia terletak diatara 6º Lu dan 11º Ls dan sebagian besar berada di sekitar khatulistiwa dan memiliki curah hujan yang cukup besar terutama di Indonesia bagian barat, dengan rata curah hujannya 2.000 – 3.000.m/tahun dan semakin ke arah timur curah hujannya semakin kecil kecuali Maluku dan Papua.
Daerah yang paling banyak mendapatkan curah hujan adalah Batu Raden Jawa Tengah yaitu 7.069 m/ tahun, sedangkan yang paling sedikit mendapatkan curah hujan adalah Palu yaitu hanya 547 m/tahun
Curah hujan di Indonesia tidak terlepas dipengaruhi oleh angin muson barat dan angin muson timur. Angin muson barat pada bulan Januari tekanan udara tinggi berada di atas Asia sedangkan tekanan rendah berada di atas Australia, angin ini berhembus di atas Lautan Pasifik banyak membawa uap air dan akhirnya menurunkan hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan berlangsung antara bulan Oktober – April (musim hujan )
Angin muson timur berhembus dari arah timur pada bula Juli. Tekan udara tinggi berada di atas Australia dan tekanan rendah berada di wilayah Asia, angin ini berhembus melalui banyak daratan daerah laut yang dilaluinya sedikit sekali sehingga udara yang berhembus tidak terlalu banyak mengandung uap air oleh sebab itu hujanya sedikit dan berhembus pada bulan April – Oktober, dan terjadilah di Indonesia musim kemarau.
Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang basah ( humid tropic ). Cirinya adalah pada musim hujan mempunyai curah hujan yang tinggi. Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong cukup banyak, yaitu rata-rata 2000 – 3000 mm/tahun. Begitu pula antara tempat yang satu dengan tempat yang lain rata-rata curah hujannya tidak sama.
Melihat kondisi diatas, perlu di kembangkan sebuah alat penakar curah hujan sehingga data curah hujan pada suatu daerah dapat dengan cepat diketahui. Hal tersebut sangat bermanfaat, misalnya untuk mengantisipasi / peringatan dini terhadap bencana banjir ataupun longsor. Pada penelitian ini akan dibuat sebuah alat penakar curah hujan berbasis mikrokontroller. Karena membutuhkan banyak input-output maka digunakan mikrokontroller ATMega128 yang mempunyai 7 buah port. Informasi curah hujan diperoleh dari perhitungan sensor curah hujan tipe tipping bucket. Sistem penakar hujan ini juga dilengkapi SD( Secure Digital ) atau MMC ( Multi Media Card ) untuk mengantisipasi terjadinya gangguan jaringan SMS sehingga data curah hujan tetap terjaga Data curah hujan tersimpan dalam SD/MMC setiap 5 menit sekali. Selain itu juga terdapat fitur yang memungkinkan penggunaan teknologi SMS sehingga kita dapat meminta data curah hujan setiap saat tanpa harus pergi ke tempat pemasangan alat penakar hujan. Sistem akan membalas SMS jika format SMS sesuai dengan yang telah ditentukan.Selain itu juga bias berfungsi sebagai stting parameter jarak jauh.Berdasarkan pengujian, sistem dapat berjalan baik dan SD/MMC dapat menyimpan data curah hujan dengan baik
6.  FENOMENA PRODUKSI TANAMAN DAN PERUBAHAN CUACA/IKLIM
Mengapa hasil produksi tanaman padi Indonesia lebih rendah daripada subtropis.
1. Unsur Iklim
Tropis →0-23,50 LU/LS.Sub Tropis→23,5-66,50 LU/LS.
2. Tanaman
3. Radiasi
4. Rata-rata energinya tinggi
Energi yang tinggi terjadi secara maksimal radiasi untuk fotosintesis, transpirasi (1gr air = 580 calori), sehingga tropis fotosintesisnya tinggi tetapi selektif dan dipengaruhi tingkat kejenuhan, foto periodisitas, C3,C4/AM.
5. Suhu
Rata-rata tinggi = t max relatif rendah dan t min relatif tinggi (36-200C).Suhu rata-rata relatif rendah, t max tinggi , t min rendah (0/5-40/450C).
6. Angin
Secara umum bertekanan rendah, pergerakan rendah.
Bertekanan tinggi, banyak badai akibat pergerakan udara yang ekstrim/kencang
Di tropis energi matahari 40-60% untuk evapotranspirasi, hanya 1-2% saja untuk fotosintesis. Setiap aktivitas tanaman mempunyai suhu kardinal (kisaran suhu yang diperlukan oleh tanaman untuk bisa hidup dan berkembang yang kisarannya suhu max sampai suhu min, dan bila berada diluar suhu kardinal aktivitas tanaman akan terganggu. Aktivitas negatif maka akan terjadi.
Suhu maksimal dan minimal berpengaruh besar terhadap tanaman. Apabila rata-rata
min max suhu tinggi, suhu minimum tinggi maka cardinal aktivitas Respirasi tinggi.
1.Aktivitas di daerah tropis yaitu bila siang Fs + Rs beresiko kecil karena Respirasi diimbangi Fotosintesis. Fs – Rs = KH sisa. Pada malam hari Karbohidrat sisa tadi akan dipakai Respirasi, apabila suhu minimum malam hari tinggi, maka Karbohidrat akan banyak dirombak sehingga sisanya sedikit/turun sehingga berpengaruh terhadap hasil produksi. Hal inilah yang menyebabkan hasil panen padi Indonesia(tropis) lebih rendah daripada subtropis.
2.Subtropis .Karbohidrat sisa dikurangi tingkat respirasi yang rendah sehingga Karbohidrat sisa lebih banyak.
3.Suhu kardinal berdampak terhadap kehidupan tanaman. Dimana tiap tanaman punya suhu kardinal yang berbeda-beda sehingga sebelum menentukan tanaman yang akan dibudidayakan kita harus tahu fluktuasi suhu suatu area dan suhu kardinal suatu tanaman.
Contoh : Suatu area bersuhu 5-400C. Bila ingin ditanami kentang yang bersuhu kardinal 8-300C maka kemungkinannya bisa dikembangkan di area itu tetapi resikonya harus diperhitungkan. Yaitu resiko terhadap dampak suhu rendah dan dampak suhu tinggi.
Sehingga setidaknya daerah yang cocok kisarannya 10-300C, dikarenakan resikonya kecil.
4.Perlunya suatu pengetahuan tentang suhu kardinal sehingga kita bias menentulan jenis budidaya yang abik atau cocok.
5.Tanaman mempunyai RESPON TERHADAP VARIASI SUHU (Thermoperiodisme) terutama suhu maksimum dan suhu minimum.
Yang dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
a)Fotothermal yaitu respon tanaman terhadap suhu maksimum. Beberapa tanaman punya respon terhadap suhu maksimum yang tinggi atau tahan contohnya tanaman minyak atsiri, cabe.
b)Nyctothermal yaitu respon tanaman terhadap suhu minimum, contohnya tanaman yang memproduksi umbi-umbian.
7.  RADIASI MATAHARI DAN KEHIDUPAN TANAMAN
Di dalam kaitannya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a.Tanaman
Yaitu aktivitas metabolisme tanaman baik anabolisme seperti fotosintesis yang menyediakan makanan berupa asimilat bagi tanaman, juga katabolisme seperti respirasi, yang menyediakan energi dalam bentuk ATP.
b.Unsur-unsur radiasi matahari sebagai sumber energi dalam bentuk cahaya maupun thermal, juga unsur-unsur dari radiasi.yang meliputi :
Intensitas radiasi (menggambarkan jumlah energi matahari dalam satuan Calori, Joule, watt/m2).
Periodisitas (menggambarkan lama matahari bersinar selama 24 jam.
Kualitas (menggambarkan spectrum cahaya yang dikandung).
Istilah-istilah yang perlu diketahui dalam bahasan tersebut adalah :
Radiant Flux Density adalah jumlah total energi matahari yang sampai pada suatu luasan permukaan tertentu (luasan permukaan daun). Dengan simbol Rs
Rs atau RFD
Black Body Radiation adalah jumlah energi matahari yang dipancarkan oleh suatu permukaan setelah permukaan tersebut menyerap energi matahari secara maksimal yang diterima di atasnya. Dimana kekuatan melepasnya sangat ditentukan oleh kemampuan menyerap energi yang berbeda yang ditentukan warnanya
Solar Constant (tetapan Radiasi) adalah jumlah energi matahari yang sampai pada permukaan terluar dari sistem atmosfer bumi. Apabila pada tanaman maka adalah jumlah energi yang akan masuk ke tajuk atau canopi.
Emisivitas adalah nilai yang menyatakan kemampuan suatu permukaan untuk memancarkan energi.
Absorbtivitas adalah nilai yang menyatakan kemampuan suatu permukaan untuk menyerap energi
contoh kasus : Apabila di daun maka ada Energi yang diserap, diteruskan dan dipantulkan.
Rr RFD/Rs r = refleksi
t = transmisi
s = surface
Rt
Sehingga tergantung dari sifat daunnya untuk memantulkan dan meneruskan cahaya. Jika semakin vertikal maka kemampuan memantulkan lebih besar, dimana sifat meneruskan tergantung dari kandungan klorofil bila lebih terang maka kemampuan meneruskan lebih besar.
Reflektivitas adalah nilai yang menyatakan kemampuan suatu permukaan untuk memantulkan energi.
r = Rr = RrL + Rr S
Albedo Reflektivitas adalah nilai yang menyatakan kemampuan suatu permukaan untuk memantulkan radiasi gelombang pendek dan nilainya diperhitungkan sama dengan
Transmisivitas adalah nilai yang menyatakan kemampuan suatu permukaan untuk meneruskan energi.
Didalam system budidaya t yang lebih tinggi, maka distribusi cahaya lebih tinggi, sehingga cahaya merata dan dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Turbiditas adalah kemampuan suatu tajuk untuk mengurangi jumlah energi matahari yang masuk ke atmosfer daun.
Turbiditas adalah kebalikan dari transmisivitas
Semakin tinggi nilai Turbiditas maka jumlah energi yang masuk akan semakin kecil.
Reradiasi adalah jumlah energi yang dipancarkan oleh suatu permukaan (Black Body Radiation) tetapi lebih cenderung ke sifatnya.
Irradiasi adalah jumlah radiasi matahari yang diserap atau ditampung oleh permukaan Irradiasi = RFD.
D. FOTOSINTESIS
Fotosintesis terdiri dari beberapa tahapan antara lain :
I.Difusi CO2 yaitu proses mengalirnya CO2 dari atmosfer ke jaringan. Difusi sangat tergantung pada perbedaan konsentrasi di tanaman dan udara.[CO2] rendah terjadi karena diubah menjadi C6H12O6.
II.Fotokimia adalah peristiwa penggunaan energi yang diserap, digunakan untuk proses fotolisis.
H2O H+ DAN OH-
CO2 CO2 + OH-
1 MOL CO2 1 MOL C6H12O6
ENERGI 112.000 CALORI
III.Biokimia yaitu proses pembongkaran karbohidrat menjadi protein, vitamin, lemak, hormon dan seterusnya (metabolisme sekunder).
C6H12O6 protein, lemak, vit, hormon
Enzimatis dan dipacu oleh suhu dan suhu sangat ditentukan oleh absorbtivitas. Suhu adalah ukuran Ek=1/2mV2
V= menggambarkan aktivitas molekul dan ditentukan oleh absorbtivitas.
8.  RADIASI SINAR MATAHARI
Terdiri dari :
1.FIR =FAR INFRA RED = >10
2.NIR = Near Infra Red = 0,76-1
3.PAR = Photosyntethic Acrive Radiation = 0,4 – 0,76
4.UV = = 1,0 Infra red (FIR)
Diserap tanaman dan dikonversikan dalam panas, mempengaruhi transpirasi 0,72-1,0Infra red
Untuk pemanjangan tanaman(etiolasi) Fotoperiode perkecambahan Pembungaan Warna buah(pigmen)
0,61-0,72Jingg→Diserap klorofil0,51-0,61Hijau0,40-0,51Biru→Diserap klorofil 0,315-0,40Violet
Daun pendek, tebal 0,28-0,315UV.Merusak organ tanaman < 0,28UV,Tanaman mati
Kelebihan dari cahaya infra red(gel. Pendek) meNyebabkan tanaman etiolasi, contohnya pada tanaman yang dibudidayakan di glasshouse.
Peranan energi matahari
PAR untuk Fotosintesis, Infra red dan UV untuk thermal dan proses Fotomorfogenetik yaitu proses fotosintesa hormon/aktivitas metabolisme dalam organ tanaman yang dirangsang cahaya.
Klorofil menyerap energi matahari sebanyak 10 quanta, dimana 1 mol quanta satara 10 einstein(520 K calori)
Efisiensi fotosintesus = 112/520 = 21,5%. Jika radiasi yang hilang
àakibat refleksi= transmisi 20% dan energi matahari dari spektrum 40% efisiensi maksimum = 0,250(1-0,20)x 0,40 = 6,9 % dari RFD
Tanaman tidak efisien dalam menggunakan matahari, misalnya
1.Refleksi : transmisi sebagian energi terbuang dan sangat dipengaruhi oleh komponen tajuk tanaman.
2.Selektivitas : organ tanaman tidak memanfaatkan energi yang ada pada permukaan , hanya spectrum merah dan biru saja yang digunakan. Kenapa tanaman mempunyai selektivitas ?
Karena klorofil yang dipunyai tanaman tidak hanya 1 jenis tetapi bermacam-macam. Radiasi yang ada di permukaan daun ditangkap tergantung dari klorofilnya.
Adanya Fitokhrom.
3.Respirasi adalah katabolisme yang akan mengurangi hasil aktivitas klorofil.Efisiensi energi Matahari adalahjumlah karbohidrat yang dihasilkan = efisiensi semakin rendah bila tingkat respirasi tinggi.
9. SUHU TANAH
Fluktuasi suhu dalam tanah akan berpengaruh langsung terhadap aktivitas perakaran. Apabila suhu tanah naik akan berakibat berkurangnya kelengasan/kandungan air dalam tanah sehingga unsure hara sulit diserap tanaman., sebaliknya jika suhu tanah rendah maka akan semakin bertambahnya kandungan aiar dalam tanah, dimana sampai pada kondisi ekstrim terjadi pengkristalan. Akibatnya aktivitas akar/respirasi semakin rendah mengakibatkan translokasi dalam tubuh tanaman jadi lambat sehingga proses distribusi unsure hara jadi lambat dan akhirnya pertumbuhan tanaman jadi lambat. Suhu tanah yang tinggi respirasinya tinggi, CO2 dalam tanah tinggi sehinggga merangsang peningkatan suhu, sehingga hasil fotosintat bisa tersebar.
Yang mengakibatkan Fluktuasi suhu tanah adalah :
a.Diffuse Radiation = radiasi yang jatuh ke tanah melalui proses refleksi
b.Dirrect Radiation = radiasi yang jatuh ke tanah melalui proses tranmisi
Sumber Suhu Tanah :
Absorpsi radiasi matahari
Rn = H + S + E NERACA ENERGI
Jika E tinggi berarti panas banyak yang disimpan dalam bentuk uap, Agar Rn(Radiasi yang digunakan oleh tanah) banyak dipakai untuk S(save) maka H dan E harus diperkecil. Manfaat naiknya suhu tanah adalah untuk mempercepat umur tanaman.
Respirasi, apabila respirasi tinggi maka jumlah CO2 akan tinggi, menaikkan suhu sekitar 0,5-10C yang berdampak pada aktivitas enzimatik sehingga produk tanaman terpengaruh.
Aktivitas Dekomposisi , terjadi akiabat adanya bantuan mikroorganisme dari sisa-sisa bagian tanaman yang dihancurkan jadi sesuatu mis : tanah sehingga suhu tanah naik dan panas akan bertambah.
Geothermal
Free Convection = adalah proses konveksi karena adanya dorongan tenaga dari luar misalnya angin. Yang terjadi akibat adanya perbedaan.
-3()1/4(te-Ta)
Force Convection H = 5,86X10-3()1/2(Te-Ta)= kecepatan angin
Faktor Yang Dipengaruhi Oleh Suhu Tanah :
Sifat Fisik Tanah yaitu Struktur, tekstur, porositas, warna, slope
Apabila strukturnya padat maka porositas rendah, kebalikannya struktur remah maka porositas tinggi sehingga proses pengaliran lancer. Apabila warnanya terang daya pantulnya tinggi daya serapnya rendah begitu sebaliknya warna gelap maka daya pantul rendah, daya serap panas tinggi sehingga suhu naik.
Kondisi Air, apabila tanah banyak mengandung air maka suhu yang terserap akan banyak digunakan untuk penguapan.
Kandungan Bahan Organik. BO mempunyai kemampuan untuk menahan energi, menyerap air, kandungan unsure hara tinggi dan memperbaiki struktur tanah.
Situasi Lingkungan baik Fisik maupun Biotik
Lingkungan Fisik meliputi kelembapan udara, radiasi, angina. Iotik meliputi vegetasi yan ada di permukaan tanah.
Sehingga tanah merupakan penghantar panas yang jelek, karena begitu mendapatkan sumber panas, sumber tersebut akan terus ditangkap sampai maksimum/tidak mampu lagi, setelah itu baru dialirkan secara konduksi.
Jika ada reradiasi, terdapat pembebasan radiasi tanah maka reradiasinya semakin tinggi dan suhu yang dilepas semakin tinggi pula, setara Hukum Black Body Radiation. Digunakan untuk menjaga keseimbangan suhu dalam tanah.








BAB 3
PENUTUP
1. Kesimpulan
Banyak factor yang mempengaruhi dalam terjadinya proses pertanian, salah satunya adalah iklim. Iklim mempunyai pengaruh yang besara terhadap baik atau buruknya pertumbuhan tanaman dalam proses pertanian yang berlangsung. Seperti yang kita ketahui, iklim mempengaruhi tanah sebagai media tanam dalam bertani. Suhu udara, angin, curah hujan, material tanah, oksigen dan mineral pada tanah sangat berpengaruh pada proses bercocok tanam, dan hal tersebut sangat di pengaruhi iklim sebagai sumber pengaruh semua itu. Bahkan berubahnya iklim bisa mengakibatkan semua hal tadi berubah pula, baik pada perubahan yang di harapkan bahkan pada perubahan yang tidak di harapkan yang dapat menggarahkan proses pertanian pada hal yang kurang baik.
Iklim merupakan komponen ekosistem dan factor produksi yang sangat dinamik dan sulit di kendalikan dan di duga terutama suhu , oleh karena itu pendekatan yang paling baik dalam rangka membangun pertanian adalah menyesuaikan keadaan tani dengan iklim
Factor suhu memepunyai peranan yang sangat penting perencanaan dan system produksi pertanian karena seluruh unsure iklim berpengaruh terhadap berbagai proses fotosintesis pertumbuhan dan produktifitas tanaman
2. Saran
Globalisasi adalah hal yang dapat merubah hal yang mempunyai pengaruh terhadap pertanian kea rah yang tidak lebih baik, bahkan cenderung merugikan. Dengan globalisasi berarti terjadi perubahan iklim, salah satunya adalah radiasi yang dapat mengganggu proses pertanian. Maka dari itu marilah kita cegah sama-sama hal tersebut, karena dengan mencegah hal terrsebut berarti kita mencegah hal yang tidak di inginkan bila terjadi globalisasi nantinya.
Sebaiknya perlu koordinasi dan kerjasama yang baik antara instansi pengelola danpengguna data iklim demi menunjang pertanian secara keseluruhan
Pemerintah seharusnya melakukan peningkatan /peralatan/stasiun informasi iklim untuk pengamatan menyediakan dan membina sdm dalam meningkatkan mutu pengamatan dan kemampuan analisis karena sangat terbatasnya informasi iklim yang sangat efektif (berdaya guna) untuk bidang atau kegiatan pertanian










Daftar pustaka
1.http//www.indekspengaruhiklimterhadappertaniankonvensional.com/wikipedia.com/inc/.hohuw.com
2. Tjasyono, 2004 “iklim ,suhu terhadap permukaan bumi”
3. Wisnubroto, S. 1997. Kekeringan Dalam Pertanian Tinjauan Khusus dari Unsur Curah Hujan. Makalah alam Seminar Nasional Dampak Kemarau Panjang diselenggarakan oleh Perhimpunan Agronomi Indonesia Tanggal 16 Desember 1997 di Yogyakarta.
4. Trenberth, Houghton and Filho. 1995” keadan iklim indonesia
5. Hillel, D.1972. The Field Water Balance and Water Use Efficiency in D. Hillel (ed) Optimizing The Soil Physical Environment Toward Greater Crop Yields. Academic Press. New York.
6. Nasir A.N, dan S. Effendy. 1999. Konsep Neraca Air Untuk Penentuan Pola Tanam. Kapita Selekta Agroklimatologi Jurusan Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan IPA. Institut Pertanian Bogor.
7. Sosrodarsono dan Takeda. 2003. Hidrologi Untuk Pengairan. Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta.
8. Hassink, J. and A.P. Whitmore, 1997. A model of physical protection of organic matter in soils. Soil Sci. Soc. Am. J. 61:131-139.
9. Achmad, Y.N., S.R. Untung, dan A. Hakim. 2000.environmental management at the Selogiri gold mine. Indonesian Mining Journal 6(1):53-61.
10. Salampak, 1999. Peningkatan ProGambut yang DisawPemberian Bahan Ameliora Berkadar Besi Tinggi. Di Pascasarjana, IPB Bogor.

No comments:

Post a Comment